Selasa, 24 Agustus 2021

EGO


Masalahnya ada di ego 

Ia menampar sesuka hati

Inginnya kumaki lalu kubunuh sampai mati

Tapi nanti aku kualat , sebab berarti aku memaki sang illahi


Masalahnya aku tak juga bisa berdamai dengan dinginnya

Bahkan geligikupun sekarang sibuk berontak

Mencucuk-cucuk otak setiap kali ego bertandang di jiwa

Ah! Menjadi lelaki menyusahkan sangat

Aku tak lagi nikmat menjadi mellow ketika egoku berbicara


Tulangku gemerutuk ikut menderita rupanya

Hidungku membatu nyaris seperti es batangan

Belum itu telapak kaki anyeb padahal kaos kaki rangkap

Dan perutku, tuhan,,, perutku seperti kain lembab tak sedap di rasa


Jadi neng, mana yang ingin kau pilih untuk bergenjat senjata 

Dalam perang waktu yang tak kenal jeda ?

Bongkah kerikil beling bercampur karang 

Atau tamparan ego yang datang bersama es kutub utara ?


"Jalani saja ! Jangan bermimpi untuk menjadi pemilih, masamu memilih sudah telat, karena aku sudah memilih mu"

MARTIR


Berjuang di tengah pandemi

Relawan tergerak dari suara hati

Belaskasih menyelimuti sanubari

Terbersit kesadaran untuk saling berbagi. 


Saat pintu terbuka

Tersingkir batas penghalang

Langit biru terbebas dari awan hitam

Kejernihan suara hati yang paling dalam. 


Pintu tabir dibuka kesadaran

Sadar tak mencampur aduk niatan

Niat pikiran murni dari dasar lubuk hati

Menggerakkan tangan martir menggali liang lahat


Apakah martir meminta imbalan? 

Bagaimana mungkin mengerahkan tenaga? 

Mendarmabaktikan diri bagi sesama

Mengabdikan diri bagi kemanusiaan

Melakukan amal tanpa kegaduhan. 


Jangan pernah berteriak di tengah pasar

Orang sedang sibuk tawar-menawar

Tidak perlu menyuarakan kebaikan

Di pasar sedang sepi dari keramaian. 


Martir terus maju berjuang

Rela mati daripada menyerah

Menyelaraskan diri di tengah situasi

Menjadi saksi bagi pengakuan mereka

Mati syahid sebagai saksi bagi kemanusiaan. 


Irham 19 Juli 2021