Senin, 30 Juli 2018

KELUHAN


...
Kalau tak mampu temukan
Tuhan dalam ratapmu.
kenapa tak duduk saja
atau lari kearah sunyi
mengais tanah yang kau injak
pagi ini...
genggam saja..
mungkin sebentar lg aku kembali
bersama segala kisah
cerita nostalgia
yang sudah kulalui...
....

SEPENGGAL DOA YANG TERTINGGAL _MEI

Mei
Makammu masih beraroma
Wangi bertabur bunga dengan tanah lembab
Dan air mata yang tak pernah kering
Betapa luapan sesal telah memuncak
Dan inginmu
Telah menjelma jasad kosong
Bukankah kita telah merenda hari
Sekadar saling menatap mata
Atau berjabat dengan pelukan?
Katamu
: kita adalah sebuah temu
Katamu
: aku pasti miliki sayap menemuimu
Katamu
: aku akan dewasa, dan berlari memelukmu
Katamu
:
Hanya katamu yang kuungkap
Tanpa dekapan
Dan mimpi yang kian perih
Mei-mu adalah kepulangan paling abadi.
Tak henti kususuri kotamu
Dengan lampu-lampu yang remang
Dan tak jua kujumpa adamu
Di persimpangan jalan itu
Sadarku terungkap
Kita adalah sepenggal janji dalam puisi
Yang terpangkas oleh takdir
Dan apa kau melihatku?
Aku tepati pertemuan ini, kawan
Berulang-ulang kali
Dan nyatanya kakiku hampa
Meski kuterbekap kedamaian syairmu
Kau telah membujur bersama bintang-bintang
Di atas kilangan cahaya langitku
Maka terimalah bait-bait doaku
Dan kuikat nama indahmu
Dalam tasbih yang berguguran
Dan harapan adalah harapan
Bagimu, bagiku
Di atas maut
Mei
Mei, adalah kidung kerinduan
Membuka gerbangnya
Lorong-lorong hitam
Kutapaki bersama hening
Betapa banyak kehilangan ini
Limpahan itu
Masih meninggalkan puing-puing
Dan dia terenggut
Berbalut darah yang begitu harum
Dengan beribu tangisan yang merajam telinga
Jasad itu
Di tidurkan seadanya
Dinding-dinding yang melebur
Adalah kebisuan saksi
Dan semua bagai asap
Yang di mana itu adalah debu yang menyesakkan
Jiwa-jiwa tertelungkup
Remuk tulang-tulang
Berterbang bebas menemui Sang Kuasa
Di sini : air mata bagai pantai-pantai tak bertepi
Semua mengisakkan duka
Semua hanya serupa jeritan
Memeluk mereka yang bernapas di antara luka
Oh mei
Berkabut syair duka cita
Terbalut darah.
kau pilih kubacakan puisi
yang bungakan hatimu
atau kitab suci
tentramkan hatimu
tapi mngkin tak keduanya
karena aku tak benar benar
sanggup berpuisi
apalagi lantunkan ayat kitab suci...
yang kubisa hanya gerutu...
atau mimik racau 2 bibir yg beradu
yang kau pikir itu suci
tapi sebenarnya belum tentu cerminkan
batinku...

Lelaki di Lumpur Dosa


***

Dia dengan kesepiannya. Bertahun-tahun dijauhi dan dianggap seolah-olah tidak ada. Ayah bunda tiada, sanak saudara jangan dikata. Bersendirian dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Tidak mempunya tujuan yang jelas ketika melangkahkan kaki. Tidak tahu apa yang akan diminta ketika tangan tertengadah dengan kepala mendongak ke langit.

Kenapa manusia menjauhinya? Sementara setiap kali dia bercermin, tiada cacat atau sesuatu yang secara lahiriah terlihat kurang. Lalu kenapa tidak ada yang betah berlama-lama di dekatnya. Mencoba membaui sekujur tubuhnya, membaui mulutnya, tidak ada yang busuk dan menjijikkan, lalu kenapa semua orang meninggalkannya di dalam lubang kesepian?

Terbiasa sendiri seharusnya membuatnya tidak sedih. Terbiasa dengan kesunyian seharusnya tidak membuat dia menangis, namun hati kecilnya masih mengisyaratkan kalau dia itu manusia. Yang masih punya hati dan perasaan. Sekuat apa pun dia menyembunyikan tangisnya, tetap kesedihan menguraikan setiap buliran air mata di pipinya.

Sampai kapan kesepian itu akan menghantui setiap perjalanan hidupnya? Apa dia harus selalu berkubang dalam lumpur kesunyian? Di bawah jeratan mereka-mereka yang menuhankan nafsu. Melayani para perempuan-perempuan yang haus belaian. Setelah mereka puas, segepok uang akan dia terima dan dia dipaksa untuk bungkam atas apa yang dia lakukan.

Lihatlah, fisiknya yang indah dengan wajah bak dewa Yunani. Tapi tidak membuatnya bangga dan senang. Pahitnya hidup telah mengantarkannya pada sebuah pilihan untuk menempuh jalur dosa. Jalur yang memudahkannya menikmati dunia namun tetap bermuara pada kesakitan batin.

Siapa teman? Siapa sahabat? Siapa yang bisa membuatnya bermakna? Tidak ada! Keberadaannya tidak lebih dari sebutir debu di antara debu-debu yang bersileweran di empat penjuru angin. Memasuki rumah-rumah yang tidak dijaga pemiliknya. Menjadikan kotor dan mungkin akan meninggalkan bau busuk yang menyengat.

Wanita-wanita yang memakai jasanya itu ibarat rumah yang tidak dikunci. Siapapun bebas memasukinya, dan dia merupakan salah satu dari kunci yang membuat perempuan-perempuan itu menjerit penuh birahi.

Bagaimana dia harus memahami hidup? Dalam setiap desakan nafasnya, yang keluar hanyalah deru dosa yang menebarkan hawa neraka. Mematikan jiwa dan hatinya yang suci. Dia telah menumpahkan mani-mani kehidupan di rahim-rahim perempuan tak terjaga. Atas dasar menyambung hidup, dia matikan hati dan perasaannya. Mengabaikan mandat sang Pemilik Takdir untuk menjauhi segala laranganNya. Menutup mata akan kebaradaan Malaikat-malaikat penjaga.

Dan kutukan Penguasa Jiwa menghampirinya. Busuknya aroma dosa menguar dari tubuhnya. Kemanapun dia melangkah, aroma itu tercium sadis, membuat orang-orang senantiasa menjaga jarak dengannya. Setiap kali dia mendekat orang dengan cepat menjauh. Pintu-pintu rumah tertutup untuknya. Tidak ada lagi yang menginginkan keberadaanya.

Sekarang, dia berdiri di bawah lampu jalanan. Memandangi laron-laron yang berterbangan mengerubungi cahaya malam. Dalam hitungn detik, tubuhnya terhempas ke bumi. Sosok yang menguarkan bau busuk itu bagai anjing kurap yang mati di pinggir jalan.

Setetes air mata, mengalir di sudut matanya. Tangisan yang hanya dia sendiri yang bisa paham. Tangisan yang bergema di jiwanya, yang berada dalam kehancuran jiwa dan kerapuhan diri. Petaka sang Khalik telah mengakhiri jalannya dengan buruk. Seburuk-buruk takdir yang dia terima. Mati dengan cara yang hina. Dikerubungi lalat dan bau busuk sampah jalanan, dibawah temaram lampu malam, di pinggir jalan yang tak bertuan.