Jumat, 07 September 2018
Aku Ada Untukmu
Sayang,
Kulihat sayu matamu
Guratan getir sembunyi di balik senyummu
; terbaca olehku
Apa kau sangat lelah?
Ataukah...?
Aku tak berani bertanya
Sebab senyummu telah mewakili dan berkata
Adanya kekuatan disana
Namun aku tahu yang kau rasa
Sayang,
Kemarilah...
Kan kubelai rambutmu
Bersandarlah...
Di pundakku
Menangislah...
Tumpahkan airmatamu
Karena aku tahu
Kau tak mampu membendung
Arus derasnya rindu
1805
Selasa, 04 September 2018
Teruntuk masa depanku...????¿¿
°Karena Mereka Tak Pernah tahu Indahnya Jatuh Hati Padamu°
Semua hidupku adalah tentang kamu, hingga detik yang menemukan kita pada celah-celah waktu pada kebisingan. Kita saling mencari dan lalu menemukan. Kita menyiapkan dan saling mengerti. Kamu pun tahu hidup ini terlalu pedam dengan kisah yang kita bagi. Tak sedikit yang mungkin melihat aku dengan sebelah mata dan memandang aku hanyalah seorang pemimpi di siang bolong. Mengaharapkan Hujan pada musim kemarau. Namun kamu datang menyakinkan, meski ku tahu dan sadar bentangan waktuku hanya lah tinggal hitungan bilangan.
Dan aku sadar ternyata engkau adalah rumah bagi kata-kataku , rumah dimana aku pulang ketika aku harus pulang setelah pergi jauh, mungkin! Aku yang terlalu bodoh untuk memahami segala tentang perasaan karena yang aku tahu, aku hanya ingin tak kehilangan kamu.
Semoga kamu masih ingat ketika setiap malam aku senandungkan lagu untukmu, yang aku rangkai dan aku kirimkan kepadamu. Itulah rindu ku yang resah. Resah tak tersentuh gelisah mencaci liang-liang malam tak bertuan sampai detik ini. Dan aku hilang dalam keramaian meskipun riuhnya menyesatkan sementara. Sesekali aku mencari wajahmu pada cermin mataku yang semakin lama semakin lelah.
Mengatup diujung nyala lilin kesunyian, hanya berteman doa pengharapan, doa pengampunan. Meresaplah di desir-desir perih, aku bertahan dan masih tegak berdiri disini.
Perempuanku... jika kau tanya sampai kapan aku bertahan, aku akan bertahan selamanya.
Perempuanku...jika kau bertanya adakah hati yang lain akan ku jawab Hanya Milik Tuhan , Ibu, Kamu dan Anak - anak Jiiwa kita.
Perempuanku... kuatlah seperti yang kau ingin kan .
Perempuanku...tegaklah seperti yang kau harapkan.
" diujung pelangi ini ku menunggu sepenuh hati, tertiup angin dingin, tersenyum sampai kau datang, di sebrang samudra ini aku menunggu sepenuh hati meski tertimbun malam". Sampai kamu datang.
Semua hidupku adalah tentang kamu, hingga detik yang menemukan kita pada celah-celah waktu pada kebisingan. Kita saling mencari dan lalu menemukan. Kita menyiapkan dan saling mengerti. Kamu pun tahu hidup ini terlalu pedam dengan kisah yang kita bagi. Tak sedikit yang mungkin melihat aku dengan sebelah mata dan memandang aku hanyalah seorang pemimpi di siang bolong. Mengaharapkan Hujan pada musim kemarau. Namun kamu datang menyakinkan, meski ku tahu dan sadar bentangan waktuku hanya lah tinggal hitungan bilangan.
Dan aku sadar ternyata engkau adalah rumah bagi kata-kataku , rumah dimana aku pulang ketika aku harus pulang setelah pergi jauh, mungkin! Aku yang terlalu bodoh untuk memahami segala tentang perasaan karena yang aku tahu, aku hanya ingin tak kehilangan kamu.
Semoga kamu masih ingat ketika setiap malam aku senandungkan lagu untukmu, yang aku rangkai dan aku kirimkan kepadamu. Itulah rindu ku yang resah. Resah tak tersentuh gelisah mencaci liang-liang malam tak bertuan sampai detik ini. Dan aku hilang dalam keramaian meskipun riuhnya menyesatkan sementara. Sesekali aku mencari wajahmu pada cermin mataku yang semakin lama semakin lelah.
Mengatup diujung nyala lilin kesunyian, hanya berteman doa pengharapan, doa pengampunan. Meresaplah di desir-desir perih, aku bertahan dan masih tegak berdiri disini.
Perempuanku... jika kau tanya sampai kapan aku bertahan, aku akan bertahan selamanya.
Perempuanku...jika kau bertanya adakah hati yang lain akan ku jawab Hanya Milik Tuhan , Ibu, Kamu dan Anak - anak Jiiwa kita.
Perempuanku... kuatlah seperti yang kau ingin kan .
Perempuanku...tegaklah seperti yang kau harapkan.
" diujung pelangi ini ku menunggu sepenuh hati, tertiup angin dingin, tersenyum sampai kau datang, di sebrang samudra ini aku menunggu sepenuh hati meski tertimbun malam". Sampai kamu datang.
Senin, 30 Juli 2018
KELUHAN
...
Kalau tak mampu temukan
Tuhan dalam ratapmu.
kenapa tak duduk saja
atau lari kearah sunyi
mengais tanah yang kau injak
pagi ini...
genggam saja..
mungkin sebentar lg aku kembali
bersama segala kisah
cerita nostalgia
yang sudah kulalui...
....
SEPENGGAL DOA YANG TERTINGGAL _MEI
Mei
Makammu masih beraroma
Wangi bertabur bunga dengan tanah lembab
Dan air mata yang tak pernah kering
Betapa luapan sesal telah memuncak
Dan inginmu
Telah menjelma jasad kosong
Bukankah kita telah merenda hari
Sekadar saling menatap mata
Atau berjabat dengan pelukan?
Katamu
: kita adalah sebuah temu
Katamu
: aku pasti miliki sayap menemuimu
Katamu
: aku akan dewasa, dan berlari memelukmu
Katamu
:
:
Hanya katamu yang kuungkap
Tanpa dekapan
Dan mimpi yang kian perih
Mei-mu adalah kepulangan paling abadi.
Tak henti kususuri kotamu
Dengan lampu-lampu yang remang
Dan tak jua kujumpa adamu
Di persimpangan jalan itu
Sadarku terungkap
Kita adalah sepenggal janji dalam puisi
Yang terpangkas oleh takdir
Dan apa kau melihatku?
Aku tepati pertemuan ini, kawan
Berulang-ulang kali
Dan nyatanya kakiku hampa
Meski kuterbekap kedamaian syairmu
Kau telah membujur bersama bintang-bintang
Di atas kilangan cahaya langitku
Maka terimalah bait-bait doaku
Dan kuikat nama indahmu
Dalam tasbih yang berguguran
Dan harapan adalah harapan
Bagimu, bagiku
Di atas maut
Mei
Mei, adalah kidung kerinduan
Membuka gerbangnya
Lorong-lorong hitam
Kutapaki bersama hening
Betapa banyak kehilangan ini
Limpahan itu
Masih meninggalkan puing-puing
Dan dia terenggut
Berbalut darah yang begitu harum
Dengan beribu tangisan yang merajam telinga
Jasad itu
Di tidurkan seadanya
Dinding-dinding yang melebur
Adalah kebisuan saksi
Dan semua bagai asap
Yang di mana itu adalah debu yang
menyesakkan
Jiwa-jiwa tertelungkup
Remuk tulang-tulang
Berterbang bebas menemui Sang Kuasa
Di sini : air mata bagai pantai-pantai tak
bertepi
Semua mengisakkan duka
Semua hanya serupa jeritan
Memeluk mereka yang bernapas di antara luka
Oh mei
Berkabut syair duka cita
Terbalut darah.
kau pilih kubacakan puisi
yang bungakan hatimu
atau kitab suci
tentramkan hatimu
tapi mngkin tak keduanya
karena aku tak benar benar
sanggup berpuisi
apalagi lantunkan ayat kitab suci...
yang kubisa hanya gerutu...
atau mimik racau 2 bibir yg beradu
yang kau pikir itu suci
tapi sebenarnya belum tentu cerminkan
batinku...
Lelaki di Lumpur Dosa
***
Dia dengan kesepiannya. Bertahun-tahun
dijauhi dan dianggap seolah-olah tidak ada. Ayah bunda tiada, sanak saudara
jangan dikata. Bersendirian dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Tidak
mempunya tujuan yang jelas ketika melangkahkan kaki. Tidak tahu apa yang akan
diminta ketika tangan tertengadah dengan kepala mendongak ke langit.
Kenapa manusia menjauhinya? Sementara
setiap kali dia bercermin, tiada cacat atau sesuatu yang secara lahiriah
terlihat kurang. Lalu kenapa tidak ada yang betah berlama-lama di dekatnya.
Mencoba membaui sekujur tubuhnya, membaui mulutnya, tidak ada yang busuk dan
menjijikkan, lalu kenapa semua orang meninggalkannya di dalam lubang kesepian?
Terbiasa sendiri seharusnya membuatnya
tidak sedih. Terbiasa dengan kesunyian seharusnya tidak membuat dia menangis,
namun hati kecilnya masih mengisyaratkan kalau dia itu manusia. Yang masih
punya hati dan perasaan. Sekuat apa pun dia menyembunyikan tangisnya, tetap
kesedihan menguraikan setiap buliran air mata di pipinya.
Sampai kapan kesepian itu akan menghantui
setiap perjalanan hidupnya? Apa dia harus selalu berkubang dalam lumpur
kesunyian? Di bawah jeratan mereka-mereka yang menuhankan nafsu. Melayani para
perempuan-perempuan yang haus belaian. Setelah mereka puas, segepok uang akan
dia terima dan dia dipaksa untuk bungkam atas apa yang dia lakukan.
Lihatlah, fisiknya yang indah dengan wajah
bak dewa Yunani. Tapi tidak membuatnya bangga dan senang. Pahitnya hidup telah
mengantarkannya pada sebuah pilihan untuk menempuh jalur dosa. Jalur yang
memudahkannya menikmati dunia namun tetap bermuara pada kesakitan batin.
Siapa teman? Siapa sahabat? Siapa yang bisa
membuatnya bermakna? Tidak ada! Keberadaannya tidak lebih dari sebutir debu di
antara debu-debu yang bersileweran di empat penjuru angin. Memasuki rumah-rumah
yang tidak dijaga pemiliknya. Menjadikan kotor dan mungkin akan meninggalkan
bau busuk yang menyengat.
Wanita-wanita yang memakai jasanya itu
ibarat rumah yang tidak dikunci. Siapapun bebas memasukinya, dan dia merupakan
salah satu dari kunci yang membuat perempuan-perempuan itu menjerit penuh
birahi.
Bagaimana dia harus memahami hidup? Dalam
setiap desakan nafasnya, yang keluar hanyalah deru dosa yang menebarkan hawa
neraka. Mematikan jiwa dan hatinya yang suci. Dia telah menumpahkan mani-mani
kehidupan di rahim-rahim perempuan tak terjaga. Atas dasar menyambung hidup,
dia matikan hati dan perasaannya. Mengabaikan mandat sang Pemilik Takdir untuk
menjauhi segala laranganNya. Menutup mata akan kebaradaan Malaikat-malaikat
penjaga.
Dan kutukan Penguasa Jiwa menghampirinya.
Busuknya aroma dosa menguar dari tubuhnya. Kemanapun dia melangkah, aroma itu
tercium sadis, membuat orang-orang senantiasa menjaga jarak dengannya. Setiap
kali dia mendekat orang dengan cepat menjauh. Pintu-pintu rumah tertutup
untuknya. Tidak ada lagi yang menginginkan keberadaanya.
Sekarang, dia berdiri di bawah lampu
jalanan. Memandangi laron-laron yang berterbangan mengerubungi cahaya malam.
Dalam hitungn detik, tubuhnya terhempas ke bumi. Sosok yang menguarkan bau
busuk itu bagai anjing kurap yang mati di pinggir jalan.
Setetes air mata, mengalir di sudut
matanya. Tangisan yang hanya dia sendiri yang bisa paham. Tangisan yang bergema
di jiwanya, yang berada dalam kehancuran jiwa dan kerapuhan diri. Petaka sang
Khalik telah mengakhiri jalannya dengan buruk. Seburuk-buruk takdir yang dia
terima. Mati dengan cara yang hina. Dikerubungi lalat dan bau busuk sampah
jalanan, dibawah temaram lampu malam, di pinggir jalan yang tak bertuan.
Langganan:
Postingan (Atom)