Senin, 30 Juli 2018

SEPENGGAL DOA YANG TERTINGGAL _MEI

Mei
Makammu masih beraroma
Wangi bertabur bunga dengan tanah lembab
Dan air mata yang tak pernah kering
Betapa luapan sesal telah memuncak
Dan inginmu
Telah menjelma jasad kosong
Bukankah kita telah merenda hari
Sekadar saling menatap mata
Atau berjabat dengan pelukan?
Katamu
: kita adalah sebuah temu
Katamu
: aku pasti miliki sayap menemuimu
Katamu
: aku akan dewasa, dan berlari memelukmu
Katamu
:
Hanya katamu yang kuungkap
Tanpa dekapan
Dan mimpi yang kian perih
Mei-mu adalah kepulangan paling abadi.
Tak henti kususuri kotamu
Dengan lampu-lampu yang remang
Dan tak jua kujumpa adamu
Di persimpangan jalan itu
Sadarku terungkap
Kita adalah sepenggal janji dalam puisi
Yang terpangkas oleh takdir
Dan apa kau melihatku?
Aku tepati pertemuan ini, kawan
Berulang-ulang kali
Dan nyatanya kakiku hampa
Meski kuterbekap kedamaian syairmu
Kau telah membujur bersama bintang-bintang
Di atas kilangan cahaya langitku
Maka terimalah bait-bait doaku
Dan kuikat nama indahmu
Dalam tasbih yang berguguran
Dan harapan adalah harapan
Bagimu, bagiku
Di atas maut
Mei
Mei, adalah kidung kerinduan
Membuka gerbangnya
Lorong-lorong hitam
Kutapaki bersama hening
Betapa banyak kehilangan ini
Limpahan itu
Masih meninggalkan puing-puing
Dan dia terenggut
Berbalut darah yang begitu harum
Dengan beribu tangisan yang merajam telinga
Jasad itu
Di tidurkan seadanya
Dinding-dinding yang melebur
Adalah kebisuan saksi
Dan semua bagai asap
Yang di mana itu adalah debu yang menyesakkan
Jiwa-jiwa tertelungkup
Remuk tulang-tulang
Berterbang bebas menemui Sang Kuasa
Di sini : air mata bagai pantai-pantai tak bertepi
Semua mengisakkan duka
Semua hanya serupa jeritan
Memeluk mereka yang bernapas di antara luka
Oh mei
Berkabut syair duka cita
Terbalut darah.
kau pilih kubacakan puisi
yang bungakan hatimu
atau kitab suci
tentramkan hatimu
tapi mngkin tak keduanya
karena aku tak benar benar
sanggup berpuisi
apalagi lantunkan ayat kitab suci...
yang kubisa hanya gerutu...
atau mimik racau 2 bibir yg beradu
yang kau pikir itu suci
tapi sebenarnya belum tentu cerminkan
batinku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar