***
Dia dengan kesepiannya. Bertahun-tahun
dijauhi dan dianggap seolah-olah tidak ada. Ayah bunda tiada, sanak saudara
jangan dikata. Bersendirian dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Tidak
mempunya tujuan yang jelas ketika melangkahkan kaki. Tidak tahu apa yang akan
diminta ketika tangan tertengadah dengan kepala mendongak ke langit.
Kenapa manusia menjauhinya? Sementara
setiap kali dia bercermin, tiada cacat atau sesuatu yang secara lahiriah
terlihat kurang. Lalu kenapa tidak ada yang betah berlama-lama di dekatnya.
Mencoba membaui sekujur tubuhnya, membaui mulutnya, tidak ada yang busuk dan
menjijikkan, lalu kenapa semua orang meninggalkannya di dalam lubang kesepian?
Terbiasa sendiri seharusnya membuatnya
tidak sedih. Terbiasa dengan kesunyian seharusnya tidak membuat dia menangis,
namun hati kecilnya masih mengisyaratkan kalau dia itu manusia. Yang masih
punya hati dan perasaan. Sekuat apa pun dia menyembunyikan tangisnya, tetap
kesedihan menguraikan setiap buliran air mata di pipinya.
Sampai kapan kesepian itu akan menghantui
setiap perjalanan hidupnya? Apa dia harus selalu berkubang dalam lumpur
kesunyian? Di bawah jeratan mereka-mereka yang menuhankan nafsu. Melayani para
perempuan-perempuan yang haus belaian. Setelah mereka puas, segepok uang akan
dia terima dan dia dipaksa untuk bungkam atas apa yang dia lakukan.
Lihatlah, fisiknya yang indah dengan wajah
bak dewa Yunani. Tapi tidak membuatnya bangga dan senang. Pahitnya hidup telah
mengantarkannya pada sebuah pilihan untuk menempuh jalur dosa. Jalur yang
memudahkannya menikmati dunia namun tetap bermuara pada kesakitan batin.
Siapa teman? Siapa sahabat? Siapa yang bisa
membuatnya bermakna? Tidak ada! Keberadaannya tidak lebih dari sebutir debu di
antara debu-debu yang bersileweran di empat penjuru angin. Memasuki rumah-rumah
yang tidak dijaga pemiliknya. Menjadikan kotor dan mungkin akan meninggalkan
bau busuk yang menyengat.
Wanita-wanita yang memakai jasanya itu
ibarat rumah yang tidak dikunci. Siapapun bebas memasukinya, dan dia merupakan
salah satu dari kunci yang membuat perempuan-perempuan itu menjerit penuh
birahi.
Bagaimana dia harus memahami hidup? Dalam
setiap desakan nafasnya, yang keluar hanyalah deru dosa yang menebarkan hawa
neraka. Mematikan jiwa dan hatinya yang suci. Dia telah menumpahkan mani-mani
kehidupan di rahim-rahim perempuan tak terjaga. Atas dasar menyambung hidup,
dia matikan hati dan perasaannya. Mengabaikan mandat sang Pemilik Takdir untuk
menjauhi segala laranganNya. Menutup mata akan kebaradaan Malaikat-malaikat
penjaga.
Dan kutukan Penguasa Jiwa menghampirinya.
Busuknya aroma dosa menguar dari tubuhnya. Kemanapun dia melangkah, aroma itu
tercium sadis, membuat orang-orang senantiasa menjaga jarak dengannya. Setiap
kali dia mendekat orang dengan cepat menjauh. Pintu-pintu rumah tertutup
untuknya. Tidak ada lagi yang menginginkan keberadaanya.
Sekarang, dia berdiri di bawah lampu
jalanan. Memandangi laron-laron yang berterbangan mengerubungi cahaya malam.
Dalam hitungn detik, tubuhnya terhempas ke bumi. Sosok yang menguarkan bau
busuk itu bagai anjing kurap yang mati di pinggir jalan.
Setetes air mata, mengalir di sudut
matanya. Tangisan yang hanya dia sendiri yang bisa paham. Tangisan yang bergema
di jiwanya, yang berada dalam kehancuran jiwa dan kerapuhan diri. Petaka sang
Khalik telah mengakhiri jalannya dengan buruk. Seburuk-buruk takdir yang dia
terima. Mati dengan cara yang hina. Dikerubungi lalat dan bau busuk sampah
jalanan, dibawah temaram lampu malam, di pinggir jalan yang tak bertuan.
terimakasih sudah berkunjung :)
BalasHapus