Kau
adalah kidung peradaban
Membuka
gerbangnya
Ditemukan
lorong-lorong terang
Kutapaki
bersama riang
Betapa
banyak keilmuan
Berbalut
darah yang begitu harum
Dengan
beribu tangisan yang merajam telinga sebuah jasad
Padanya,
air mata bagai pantai-pantai tak bertepi
Semua
mengisakan suka
Memeluk
mereka yang bernapas di antara luka
Karena
ke-tidak adilan meraja lela
Dengannya,
kita mampu membacakan puisi
Yang
bungakan hati
Atau
kitab suci, yang Tentramkan hati
Tapi,
mungkin tak keduanya
Penyalahgunaannya
Saingi
belati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar