Senin, 30 Juli 2018

Lelaki di Lumpur Dosa


***

Dia dengan kesepiannya. Bertahun-tahun dijauhi dan dianggap seolah-olah tidak ada. Ayah bunda tiada, sanak saudara jangan dikata. Bersendirian dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Tidak mempunya tujuan yang jelas ketika melangkahkan kaki. Tidak tahu apa yang akan diminta ketika tangan tertengadah dengan kepala mendongak ke langit.

Kenapa manusia menjauhinya? Sementara setiap kali dia bercermin, tiada cacat atau sesuatu yang secara lahiriah terlihat kurang. Lalu kenapa tidak ada yang betah berlama-lama di dekatnya. Mencoba membaui sekujur tubuhnya, membaui mulutnya, tidak ada yang busuk dan menjijikkan, lalu kenapa semua orang meninggalkannya di dalam lubang kesepian?

Terbiasa sendiri seharusnya membuatnya tidak sedih. Terbiasa dengan kesunyian seharusnya tidak membuat dia menangis, namun hati kecilnya masih mengisyaratkan kalau dia itu manusia. Yang masih punya hati dan perasaan. Sekuat apa pun dia menyembunyikan tangisnya, tetap kesedihan menguraikan setiap buliran air mata di pipinya.

Sampai kapan kesepian itu akan menghantui setiap perjalanan hidupnya? Apa dia harus selalu berkubang dalam lumpur kesunyian? Di bawah jeratan mereka-mereka yang menuhankan nafsu. Melayani para perempuan-perempuan yang haus belaian. Setelah mereka puas, segepok uang akan dia terima dan dia dipaksa untuk bungkam atas apa yang dia lakukan.

Lihatlah, fisiknya yang indah dengan wajah bak dewa Yunani. Tapi tidak membuatnya bangga dan senang. Pahitnya hidup telah mengantarkannya pada sebuah pilihan untuk menempuh jalur dosa. Jalur yang memudahkannya menikmati dunia namun tetap bermuara pada kesakitan batin.

Siapa teman? Siapa sahabat? Siapa yang bisa membuatnya bermakna? Tidak ada! Keberadaannya tidak lebih dari sebutir debu di antara debu-debu yang bersileweran di empat penjuru angin. Memasuki rumah-rumah yang tidak dijaga pemiliknya. Menjadikan kotor dan mungkin akan meninggalkan bau busuk yang menyengat.

Wanita-wanita yang memakai jasanya itu ibarat rumah yang tidak dikunci. Siapapun bebas memasukinya, dan dia merupakan salah satu dari kunci yang membuat perempuan-perempuan itu menjerit penuh birahi.

Bagaimana dia harus memahami hidup? Dalam setiap desakan nafasnya, yang keluar hanyalah deru dosa yang menebarkan hawa neraka. Mematikan jiwa dan hatinya yang suci. Dia telah menumpahkan mani-mani kehidupan di rahim-rahim perempuan tak terjaga. Atas dasar menyambung hidup, dia matikan hati dan perasaannya. Mengabaikan mandat sang Pemilik Takdir untuk menjauhi segala laranganNya. Menutup mata akan kebaradaan Malaikat-malaikat penjaga.

Dan kutukan Penguasa Jiwa menghampirinya. Busuknya aroma dosa menguar dari tubuhnya. Kemanapun dia melangkah, aroma itu tercium sadis, membuat orang-orang senantiasa menjaga jarak dengannya. Setiap kali dia mendekat orang dengan cepat menjauh. Pintu-pintu rumah tertutup untuknya. Tidak ada lagi yang menginginkan keberadaanya.

Sekarang, dia berdiri di bawah lampu jalanan. Memandangi laron-laron yang berterbangan mengerubungi cahaya malam. Dalam hitungn detik, tubuhnya terhempas ke bumi. Sosok yang menguarkan bau busuk itu bagai anjing kurap yang mati di pinggir jalan.

Setetes air mata, mengalir di sudut matanya. Tangisan yang hanya dia sendiri yang bisa paham. Tangisan yang bergema di jiwanya, yang berada dalam kehancuran jiwa dan kerapuhan diri. Petaka sang Khalik telah mengakhiri jalannya dengan buruk. Seburuk-buruk takdir yang dia terima. Mati dengan cara yang hina. Dikerubungi lalat dan bau busuk sampah jalanan, dibawah temaram lampu malam, di pinggir jalan yang tak bertuan.

1 komentar: